Minggu, 29 Maret 2020

Isu Global Warming




Belakangan ini, bumi kita sedang mengalami sebuah fenomena besar yakni pemanasan global (Global Warming), terjadinya pemanasan global ini diikuti dengan peristiwa perubahan iklim global (Climate Changes). Intergovernmental Panel on Climate Change(2001) menyatakan bahwa perubahan iklim merujuk pada variasi rata - rata kondisi iklim suatu tempat atau pada variabilitasnya yang nyata secara statistik untuk jangka waktu yang panjang (biasanya dekade atau lebih). Selain itu juga diperjelas bahwa perubahan iklim mungkin karena proses alam internal maupun ada kekuatan eksternal, atau ulah manusia yang terus menerus merubah komposisi atmosfer dan tata guna lahan.

Pemanasan global (Global Warming), yaitu fenomena peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca (Greenhouse Effect) yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas rumah kaca (GRK). Menurut Sejati (2011) ada enam jenis gas yang digolongkan sebagai GRK, yaitu karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O), sulfurheksafluorida (SFx), perfluorokarbon (PFC) dan hidrofluorokarbon (HFC). Peningkatan emisi GRK di sebabkan karena aktivitas manusia maupun peristiwa-peristiwa alam yang berkontribusi bagi peningkatan emisi GRK tersebut.

Banyak sekali hal yang berkontribusi dalam peningkatan terjadinya pemanasan global (Global Warming) baik itu alamiah maupun ulah manusia itu sendiri. Kegiatan perindustrian, peternakan, pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor, serta penebangan hutan. Semua kegiatan tersebut merupakan penghasil emisi gas rumah kaca di atmosfer. Menurut Rosegrent, dkk. (2008) secara global, emisi GRK merupakan kontribusi dari berbagai sektor kehidupan. Sektor energi memberikan kontribusi sebesar 63%, sektor kehutanan dan alih fungsi lahan sebesar 18%, sektor pertanian sebesar 13%, sektor industri dan sampah rumah tangga masing-masing sebesar 3%.
Gas rumah kaca yang dihasilkan akan menahan panas dari matahari, dan tidak terpantulkan kembali ke angkasa. Semakin banyak gas yang terkumpul di atmosfer, maka akan semakin banyak panas terperangkap, sehingga menyebabkan terjadinya peningkatan suhu.
Peningkatan suhu global rata-rata ini akan berimbas pada semakin ekstrimnya perubahan cuaca dan iklim bumi, yang ditandai dengan menipisnya lapisan ozon, terjadinya El-Nino, mencairnya es di kutub utara dan kutub selatan. Pola curah hujan berubah-ubah tanpa dapat diprediksi sehingga menyebabkan banjir di satu tempat, tetapi kekeringan di tempat yang lain.

Seperti di Indonesia, telah terjadi perubahan iklim yang tidak menentu akibat dari pemanasan global tersebut (Global Warming). Negara Indonesia memiliki dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Dari kedua musim ini pada dasarnya terjadi selama 6 bulan untuk masing-masing musim. Musim hujan dimulai dari bulan November -- Maret dan musim kemarau dimulai dari bulan Oktober -- April. Namun saat ini, karena adanya fenomena pemanasan global (Global Warming), iklim di Indonesia pun menjadi tidak teratur dan sulit diprediksi.

Selain dari fenomena pemanasan global (Global Warming), dikenal pula sebuah fenomena yang disebut pendinginan global atau Global Cooling.Kata Global Cooling memang masih asing di telinga masyarakat, namun fenomena ini penting untuk diketahui semuanya.

 Menurut beberapa pemerhati lingkungan, Global Cooling merupakan titik balik dari pemanasan global. Global Cooling merujuk kepada Geophysical Theory oleh James Dwight Dana dan juga merujuk kepada Contracting EarthTheory. Teori terakhir Contracting Earth Theory bertolak belakang dengan Expanding Earth Hypothesis yang disebut di sekitar tahun 1950-1960 oleh S. Warren Carey, seorang ahli geologi Australian yang sejalan dengan teori Big Bang, yaitu teori asal muasal terjadinya alam.

Pendinginan global (Global Cooling) adalah fenomena menurunnya tingkat suhu udara yang sangat drastis, secara alami suhu bumi lebih rendah dari rata-rata suhu biasanya. Selain itu, proses pemanasan global yang melelehkan es di bebebapa daratan juga di prediksikan akan memicu pendinginan global.

Pendinginan global terjadi setelah fenomena pemanasan global (Global Warming) berakhir. Kedua fenomena terjadi karena aktivitas yang dilakukan alam itu sendiri. Alam mempunyai aktivitas sehingga matahari juga mempunyai siklus pendinginan matahari yang dikenal dengan Little Ice Age (LIA). Bintik-bintik hitam yang disebut bintik matahari dan Flare yang menjadi indikasi aktivitas matahari. Peristiwa Little Ice Age (LIA) sudah pernah terjadi pada tahun 1650-1850 dan terjadi setiap 200-250 tahun sekali. Sehingga, para ilmuwan memprediksi peristiwa ini akan terjadi lagi pada tahun 2030 dan 2040.

Cahaya matahari minimum yang menyebabkan terjadinya pendinginan secara signifikan  merupakan bukti langsung yang ditemukan oleh pusat penelitian di German GFZ. Cahaya matahari minimum adalah kondisi saat posisi bumi berada pada titik terjauh dari matahari yang mengakibatkan berkurangnya intensitas matahari terhadap bumi sehingga suhu di bumi akan mengalami pendinginan mendadak beberapa derajat. Hal ini tentu berlawanan dengan pemanasan global dan memicu pembentukan zaman es.

Fenomena pemanasan global (Global Warming)merupakan suatu permasalahan yang harus diselesaikan karena memiliki banyak dampak negatif terhadap bumi, sehingga para ilmuwan di Inggris dan Amerika Serikat mencari solusi serta meneliti molekul yang dapat mengatasi pemanasan global. Namun, ilmuwan yang berasal dari Jerman dan peneliti dari Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia, Vladimir Kotlyakov mengatakan peristiwa Little Ice Age (LIA) dengan sendirinya membantah isu pemanasan global akan berlanjut sampai akhir abad ini.

Namun demikian, kita juga harus melakukan suatu mitigasi untuk meminimalisir dampak dari pemanasan global (Global Warming). Bagaimana cara kita untuk mengurangi dampak yang sudah terjadi di bumi ini ? Cara yang dapat kita lakukan yakni dengan mengadakan reboisasi atau penanaman pohon kembali, yang bermanfaat dalam penangkapan dan penyimpanan CO2 untuk mengurangi efek rumah kaca.

Kita dapat meningkatkan efisiensi energi untuk membantu mengimbangi kenaikan konsumsi energi, seperti mengurangi penggunaan AC atau listrik. Selain itu, dapat dengan memperkuat fasilitas produksi energi untuk menahan peningkatan banjir, angin, petir, tekanan badai. Itulah sebagian kecil hal-hal yang dapat kita lakukan, masih banyak lagi kegiatan positif yang dapat dilakukan untuk menjaga bumi kita ini.
Fenomena pemanasan global (Global Warming)merupakan suatu permasalahan yang harus diselesaikan karena memiliki banyak dampak negatif terhadap bumi, sehingga para ilmuwan di Inggris dan Amerika Serikat mencari solusi serta meneliti molekul yang dapat mengatasi pemanasan global. Namun, ilmuwan yang berasal dari Jerman dan peneliti dari Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia, Vladimir Kotlyakov mengatakan peristiwa Little Ice Age (LIA) dengan sendirinya membantah isu pemanasan global akan berlanjut sampai akhir abad ini.


Namun demikian, kita juga harus melakukan suatu mitigasi untuk meminimalisir dampak dari pemanasan global (Global Warming). Bagaimana cara kita untuk mengurangi dampak yang sudah terjadi di bumi ini ? Cara yang dapat kita lakukan yakni dengan mengadakan reboisasi atau penanaman pohon kembali, yang bermanfaat dalam penangkapan dan penyimpanan CO2 untuk mengurangi efek rumah kaca.

Kita dapat meningkatkan efisiensi energi untuk membantu mengimbangi kenaikan konsumsi energi, seperti mengurangi penggunaan AC atau listrik. Selain itu, dapat dengan memperkuat fasilitas produksi energi untuk menahan peningkatan banjir, angin, petir, tekanan badai. Itulah sebagian kecil hal-hal yang dapat kita lakukan, masih banyak lagi kegiatan positif yang dapat dilakukan untuk menjaga bumi kita ini.


sumber :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar