Belakangan
ini, bumi kita sedang mengalami sebuah fenomena besar yakni pemanasan global
(Global Warming), terjadinya pemanasan global ini diikuti dengan peristiwa
perubahan iklim global (Climate Changes). Intergovernmental Panel on Climate
Change(2001) menyatakan bahwa perubahan iklim merujuk pada variasi rata - rata
kondisi iklim suatu tempat atau pada variabilitasnya yang nyata secara
statistik untuk jangka waktu yang panjang (biasanya dekade atau lebih). Selain
itu juga diperjelas bahwa perubahan iklim mungkin karena proses alam internal
maupun ada kekuatan eksternal, atau ulah manusia yang terus menerus merubah
komposisi atmosfer dan tata guna lahan.
Pemanasan
global (Global Warming), yaitu fenomena peningkatan temperatur global dari
tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca (Greenhouse Effect) yang
disebabkan oleh meningkatnya emisi gas rumah kaca (GRK). Menurut Sejati (2011)
ada enam jenis gas yang digolongkan sebagai GRK, yaitu karbondioksida (CO2),
metana (CH4), dinitrooksida (N2O), sulfurheksafluorida (SFx), perfluorokarbon
(PFC) dan hidrofluorokarbon (HFC). Peningkatan emisi GRK di sebabkan karena aktivitas
manusia maupun peristiwa-peristiwa alam yang berkontribusi bagi peningkatan
emisi GRK tersebut.
Banyak
sekali hal yang berkontribusi dalam peningkatan terjadinya pemanasan global
(Global Warming) baik itu alamiah maupun ulah manusia itu sendiri. Kegiatan
perindustrian, peternakan, pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan
bermotor, serta penebangan hutan. Semua kegiatan tersebut merupakan penghasil
emisi gas rumah kaca di atmosfer. Menurut Rosegrent, dkk. (2008) secara global,
emisi GRK merupakan kontribusi dari berbagai sektor kehidupan. Sektor energi
memberikan kontribusi sebesar 63%, sektor kehutanan dan alih fungsi lahan
sebesar 18%, sektor pertanian sebesar 13%, sektor industri dan sampah rumah
tangga masing-masing sebesar 3%.
Gas
rumah kaca yang dihasilkan akan menahan panas dari matahari, dan tidak
terpantulkan kembali ke angkasa. Semakin banyak gas yang terkumpul di atmosfer,
maka akan semakin banyak panas terperangkap, sehingga menyebabkan terjadinya
peningkatan suhu.
Peningkatan
suhu global rata-rata ini akan berimbas pada semakin ekstrimnya perubahan cuaca
dan iklim bumi, yang ditandai dengan menipisnya lapisan ozon, terjadinya
El-Nino, mencairnya es di kutub utara dan kutub selatan. Pola curah hujan
berubah-ubah tanpa dapat diprediksi sehingga menyebabkan banjir di satu tempat,
tetapi kekeringan di tempat yang lain.
Seperti
di Indonesia, telah terjadi perubahan iklim yang tidak menentu akibat dari
pemanasan global tersebut (Global Warming). Negara Indonesia memiliki dua
musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Dari kedua musim ini pada dasarnya
terjadi selama 6 bulan untuk masing-masing musim. Musim hujan dimulai dari
bulan November -- Maret dan musim kemarau dimulai dari bulan Oktober -- April.
Namun saat ini, karena adanya fenomena pemanasan global (Global Warming), iklim
di Indonesia pun menjadi tidak teratur dan sulit diprediksi.
Selain
dari fenomena pemanasan global (Global Warming), dikenal pula sebuah fenomena
yang disebut pendinginan global atau Global Cooling.Kata Global Cooling memang
masih asing di telinga masyarakat, namun fenomena ini penting untuk diketahui
semuanya.
Menurut beberapa pemerhati lingkungan, Global
Cooling merupakan titik balik dari pemanasan global. Global Cooling merujuk
kepada Geophysical Theory oleh James Dwight Dana dan juga merujuk kepada
Contracting EarthTheory. Teori terakhir Contracting Earth Theory bertolak
belakang dengan Expanding Earth Hypothesis yang disebut di sekitar tahun
1950-1960 oleh S. Warren Carey, seorang ahli geologi Australian yang sejalan
dengan teori Big Bang, yaitu teori asal muasal terjadinya alam.
Pendinginan
global (Global Cooling) adalah fenomena menurunnya tingkat suhu udara yang
sangat drastis, secara alami suhu bumi lebih rendah dari rata-rata suhu
biasanya. Selain itu, proses pemanasan global yang melelehkan es di bebebapa
daratan juga di prediksikan akan memicu pendinginan global.
Pendinginan
global terjadi setelah fenomena pemanasan global (Global Warming) berakhir.
Kedua fenomena terjadi karena aktivitas yang dilakukan alam itu sendiri. Alam
mempunyai aktivitas sehingga matahari juga mempunyai siklus pendinginan
matahari yang dikenal dengan Little Ice Age (LIA). Bintik-bintik hitam yang
disebut bintik matahari dan Flare yang menjadi indikasi aktivitas matahari.
Peristiwa Little Ice Age (LIA) sudah pernah terjadi pada tahun 1650-1850 dan
terjadi setiap 200-250 tahun sekali. Sehingga, para ilmuwan memprediksi
peristiwa ini akan terjadi lagi pada tahun 2030 dan 2040.
Cahaya
matahari minimum yang menyebabkan terjadinya pendinginan secara signifikan merupakan bukti langsung yang ditemukan oleh
pusat penelitian di German GFZ. Cahaya matahari minimum adalah kondisi saat
posisi bumi berada pada titik terjauh dari matahari yang mengakibatkan
berkurangnya intensitas matahari terhadap bumi sehingga suhu di bumi akan
mengalami pendinginan mendadak beberapa derajat. Hal ini tentu berlawanan
dengan pemanasan global dan memicu pembentukan zaman es.
Fenomena
pemanasan global (Global Warming)merupakan suatu permasalahan yang harus diselesaikan
karena memiliki banyak dampak negatif terhadap bumi, sehingga para ilmuwan di
Inggris dan Amerika Serikat mencari solusi serta meneliti molekul yang dapat
mengatasi pemanasan global. Namun, ilmuwan yang berasal dari Jerman dan
peneliti dari Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia, Vladimir Kotlyakov mengatakan
peristiwa Little Ice Age (LIA) dengan sendirinya membantah isu pemanasan global
akan berlanjut sampai akhir abad ini.
Namun
demikian, kita juga harus melakukan suatu mitigasi untuk meminimalisir dampak
dari pemanasan global (Global Warming). Bagaimana cara kita untuk mengurangi
dampak yang sudah terjadi di bumi ini ? Cara yang dapat kita lakukan yakni
dengan mengadakan reboisasi atau penanaman pohon kembali, yang bermanfaat dalam
penangkapan dan penyimpanan CO2 untuk mengurangi efek rumah kaca.
Kita
dapat meningkatkan efisiensi energi untuk membantu mengimbangi kenaikan
konsumsi energi, seperti mengurangi penggunaan AC atau listrik. Selain itu,
dapat dengan memperkuat fasilitas produksi energi untuk menahan peningkatan
banjir, angin, petir, tekanan badai. Itulah sebagian kecil hal-hal yang dapat
kita lakukan, masih banyak lagi kegiatan positif yang dapat dilakukan untuk
menjaga bumi kita ini.
Fenomena
pemanasan global (Global Warming)merupakan suatu permasalahan yang harus
diselesaikan karena memiliki banyak dampak negatif terhadap bumi, sehingga para
ilmuwan di Inggris dan Amerika Serikat mencari solusi serta meneliti molekul
yang dapat mengatasi pemanasan global. Namun, ilmuwan yang berasal dari Jerman
dan peneliti dari Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia, Vladimir Kotlyakov mengatakan
peristiwa Little Ice Age (LIA) dengan sendirinya membantah isu pemanasan global
akan berlanjut sampai akhir abad ini.
Namun
demikian, kita juga harus melakukan suatu mitigasi untuk meminimalisir dampak
dari pemanasan global (Global Warming). Bagaimana cara kita untuk mengurangi
dampak yang sudah terjadi di bumi ini ? Cara yang dapat kita lakukan yakni
dengan mengadakan reboisasi atau penanaman pohon kembali, yang bermanfaat dalam
penangkapan dan penyimpanan CO2 untuk mengurangi efek rumah kaca.
Kita
dapat meningkatkan efisiensi energi untuk membantu mengimbangi kenaikan
konsumsi energi, seperti mengurangi penggunaan AC atau listrik. Selain itu,
dapat dengan memperkuat fasilitas produksi energi untuk menahan peningkatan banjir,
angin, petir, tekanan badai. Itulah sebagian kecil hal-hal yang dapat kita
lakukan, masih banyak lagi kegiatan positif yang dapat dilakukan untuk menjaga
bumi kita ini.
sumber :


